Seorang remaja membawa tongkat bisbol masuk ke UGD sebuah rumah sakit, anak muda itu membuat kerusakan disana, ia memecahkan semua kaca juga mengancam orang-orang.
remaja itu adalah Kang Dong Joo muda. ia melampiaskan emosi kemarahannya atas ketidak pedulian orang orang disana hingga menyebabkan ayahnya meninggal dunia.
== Sebuah era ketidakadilan==
Flashback!
Dong Joon meminta kepada dokter dan perawat di UGD agar menolong ayahnya karna ayangnya datang lebih dulu...ia berteriak kepada semua orang yang lalu lalang namun tidak seorang pun memperdulikannya. Dong Joo pun marah dan terus berteriak-teriak.
Flashback End!
= =Sebuah era ketidakseimbangan ==
Dong Joo dengan penuh emosi menghancurkan kaca-kaca yang ada di rumah sakit dan juga peralatan yang ada disana.
==Sebuah era yang dipenuhi pelanggaran dan pengkhianatan==
Flashback
Karena tak ada yang memperdulikan ayah Dong Joo, akhirnya sang ayah di nyatakan meninggal pada pukul 20:23. Dong Joo pun menangis bersama ibunya, karena kehilangan Tuan Kang sebab ulah para petugas medis yang tak bertanggung jawab di rumah sakit itu.
Tepat disaat itu, dokter Do keluar dari ruang operasi dan memberitahu keluarga pasien kalau operasi pasien berjalan dengan lancar. Pasiennya saat itu adalah Ketua Dewan.
“Ayahku yang sampai lebih dulu di sini,” gumam Dong Joo dan kemudian saking emosinya, dia langsung berteriak, “Ayahku… sampai di sini duluan dibanding orang itu!”
Dong Joo berlari menuju dokter Do dan hendak menyerangnya, namun dia langsung di tahan oleh sekuriti rumah sakit. “Ayahku sampai lebih dulu dibanding orang itu! Ayahku seharusnya mendapat perawatan terlebih dahulu! Ayahku… lepaskan aku!” triak Dong Joo dan dokter Do menanggapinya dengan dingin. Dia bahkan terkesan tak perduli.
Flashback End
== Sebuah era di mana pasien pun didiskriminasi, berdasarkan kekuasaan dan kekayaan yang mereka miliki.==
“Kenapa kalian mempermainkan nyawa manusia, huh? Rumah sakit dan para dokter tidak boleh melakukannya!” teriak Dong Joo sambil terus mengayunkan tongkat bisbolnya. Tepat disaat itu perawat yang berjaga di meja resepsionis hendak menelpon polisi, namun dengan cepat Dong Joo langsung memukul teleponnya dengan tongkat bisbol.
Dong Joo bernarasi, “Tapi, pada saat itu…dia muncul dengan penuh percaya diri.”
Ya, kita melihat seorang pria menggunakan jas dokter berjalan ke arah Dong Joo dan kemudian menangkap Dong Joo dengan gerakan bela dirinya. Setelah berhasil menangkap Dong Joo, dokter itu kemudian menyuntikkan obat bius pada Dong Joo. Dalam hitungan ketiga, Dong Joo pun tak sadarkan diri karena efek obat biusnya.
Tak lama kemudian, Dong Joo sadarkan diri dan dia melihat seorang dokter dengan nama, “Bu Yong Joo” sedang menjahit tangannya yang terluka.
“Apakah kau sudah merasa sedikit lebih baik sekarang, setelah datang dan membuat kekacauan?” tanya dokter yang bernama Bu Yong Joo itu.
“Bukan urusanmu, Paman,” jawab Dong Joo.
“Jangan bodoh. Hanya karena kau menumpahkan amarahmu, bukan berarti kau telah membalas dendam. Bahkan, meski kau datang dan memukulkan tongkat baseball di sini selama 100 hari pun, orang-orang itu tidak akan mengingat wajahmu. Jika kau sungguh ingin membalas dendam, jadilah manusia yang jauh lebih baik dari mereka. Jangan membalas dendam menggunakan amarah, tapi dengan kemampuan. Mengerti? Jika kau tidak berubah, maka hal lain pun akan tetap sama,” pesan dokter Bu dan kemudian pergi meninggalkan Dong Joo.

Dong Joo keluar ruangan rawat dan hendak memanggil dokter tersebut, namun dokter Bu Yong Joo sudah tak terlihat lagi. Ucapan Dokter Bu terus terngiang di telinga Dong Joo dan itu membuatnya menangis.
“Bagaimana seseorang bisa mewujudkan hal seperti itu? Terutama, seseorang seperti diriku?” ucap Dong Joo dan teringat ketika ayahnya meninggal dan dr Do sama sekali tak merasa bersalah padanya. Dong Joo pun teringat kembali pada pesan dr Bu Young Joo kalau bukan Dong Joo sendiri yang berubah, maka hal lain pun akan tetap sama. Dengan kata-kata itu, Dong Joo pun bertekad untuk berubah.
Kelang beberapa tahun kemudian Kang Dong Joo sudah menjadi seorang dokter di rumah sakit itu.
== Episode 1: Cara Meletakkan Seekor Gajah dalam Lemari Es==
== September, 2011 ==
Dua orang dokter keluar dari ruang operasi dan salah satu dokter berkata kalau yang dia dengar ada “salju istimewa” diantara dokter magang yang baru. Maksud julukan “salju istimewa” adalah dokter itu tidak peduli soal senioritas dan memperlakukan para seniornya seperti sampah. Dia bersikap kurang ajar pada para senior dan bahkan kadang memukul wajah mereka! Bahkan senior mereka berdua. dokter baru itu juga tidak pernah melewatkan satupun kelas seumur hidupnya. Sehingga membuat dia jadi seorang jenius yang ditakdirkan untuk menjadi dokter bedah.
“Tetap saja, statusnya masih dokter magang,” ucap Yeon Seo Jung santai.
Ternyata dokter magang yang diberi julukan “salju istimewa” adalah Kang Dong Joo dan saat ini dia sedang diberi tugas oleh seniornya, namun dia tak mau mengerjakannya. Dong Joo beralasan menolak perintah seniornya itu karena tujuan dia menjadi dokter magang bukan untuk membuatkannya kopi. Mendengar itu, si senior kemudian bertanya apa tujuan Dong Joo menjadi dokter dan Dong Joo pun menjawab dengan yakin kalau tujuan dia adalah untuk memperbaiki karakter manusia.
“Kalian dengar? Seorang dokter magang mengatakan dia ingin memperbaiki karakter manusia! Hey, bagaimana kalau kau perbaiki saja kepribadian angkuhmu itu, Dokter Magang? Apa kau pikir perilakumu yang tidak menghormati para senior akan bisa membuatmu memperlakukan pasien dengan baik?” tanya si senior lagi.
“Jangan menghubungkan dua hal yang sama sekali tidak ada kaitan. Membuatkan kopi dan merawat pasien dengan baik adalah dua hal yang benar-benar berbeda,” jawab Dong Joo dan yeon Seo Jung yang ikut mendengar jawaban Dong Joo langsung tersenyum.
“Apa kau bilang? Kau tahu, kau harus menjaga sikapmu!”
“Kalau begitu, jangan menyuruhku membuatkanmu kopi. Aku tidak akan mematuhi sebuah perintah bodoh kecuali hal itu berhubungan dengan tugasku sebagai dokter,” ucap Dong Joo dan berjalan pergi. Tentu saja si senior bertambah kesal karena perintahnya di sebut dengan perintah bodoh. Sahabat Seo Jung pun menenangkan si senior dan memintanya untuk mengalah saja.
Tepat disaat itu, seorang perawat datang dan memberitahu para dokter kalau sudah ada kecelakaan besar di sebuah lokasi konstruksi dan empat orang pasien yang cedera akan segera tiba dalam dua menit. Mendengar itu, Seo Jung pun menyuruh si perawat untuk menghubungi dr Won.
Seo Jung menghampiri seorang pasien yang mengalami luka di lengan kanan dan area di sekitar lengannya mati rasa. Setelah memeriksanya sendiri, Seo Jung kemudian memanggil dokter magang.
“Sepertinya, pasien mengalami patah tulang. Peredaran darahnya normal, tapi kurasa, syarafnya terpengaruh. Jadi, lakukan pemeriksaan lengan secara mendetail lebih dulu. Lakukan pemeriksaan x-ray forearm anterior-posterior lateral dan lakukan reduksi secepatnya,” perintah Seo Jung pada dokter magang dan dokter magang itupun langsung membawa pergi si pasien untuk dilakukan pemeriksaan X-ray.
Si senior Dong Joo tadi juga memeriksa pasien kecelakaan dan karena mereka kekurangan dokter, dia pun berteriak memanggil dokter magang untuk membantunya. Saat hendak membantu dokter lain mengurus pasien, Dong Joo tiba-tiba mendengar seorang gadis remaja berkata kalau ibunya dulu yang datang ke rumah sakit dan butuh perawatan karena dia merasa kesakitan, sedangkan perawat yang ada di dekatnya berkata kalau pasien kecelakaan juga membutuhkan bantuan Dong Joo.
Dong Joo kemudian menemui Seo Jung dan bertanya apa Seo Jung bisa ikut dengannya sebentar? Karena ada pasien yang sedang kesulitan dalam pernafasan. Saat itu Seo Jung sedang mengobati seorang pasien, jadi dia tak terlalu menghiraukan pada apa yang Dong Joo katakan, dia lebih fokus pada pasien yang sedang dia rawat. Dia bahkan menyuruh Dong Joo untuk memasang ketetern pada pasien yang ada di depannya itu.
“Ada seorang pasien yang sedang kritis. Dia memiliki riwayat COPD (penyakit paru obstruktif kronis), dan saat ini memiliki masalah SIRS (gangguan respon terhadap rangsangan klinis). Aku kuatir dia mungkin juga mengidap pneumonia sepsis,” ucap Dong Joo.
“Bagaimana tanda-tanda vital pasien saat ini?” tanya Seo Jung.
“Tekanan darahnya 107, untuk saat ini dia stabil, tapi….”
“Kalau begitu, pasangkan dulu kateter untuk pasien ini!” potong Seo Jung.
“Tolong lakukan ABGA (pemeriksaan gas darah) padanya,” jawab Dong Joo.
“Kau tidak lihat tekanan darah pasien ini terus turun? Masih belum mengerti siapa yang harus didahulukan?” tanya Seo Jung dengan nada kesal.
“Sudah kubilang, pasien tadi mungkin mengidap pneumonia sepsis!” jawab Dong Joo dengan nada marah.
“Hey, Anak Magang!” teriak Seo Jung memanggil dokter magang yang lain. “Cepat kemari dan gantikan si berengsek ini! Pergi dari sini!” ucap Seo Jung dengan kesal.
Tepat disaat itu, petugas 119 membawa pasien yang lebih parah lagi, pasien itu tertusuk besi dimana bagian ujung besi ada bongkahan semen. Semua orang yang ada di UGD terperangah melihatnya.
Seo Jung kemudian menelpon dr Moon yang saat itu sedang melakukan operasi, dia menelpon untuk menanyakan apa yang harus mereka lakukan pada pasien yang tertancam besi itu. Sambil meneruskan operasi yang dia lakukan, dr Moon memberi pengarahan pada Seo Jung.
“Di mana tepatnya posisi besi itu?” tanya dr Moon.
“Menancap mulai perut bagian atas sampai punggung bagian bawah, posisinya berdiri jenjang,” jawab Seo Jung.
“Tanda-tanda vitalnya?”
“Untungnya, tekanan darahnya 119, jadi masih normal, denyut nadinya 130/menit. Tidak ada pendarahan berlebih.”
“Mungkin saja terjadi pendarahan internal, jadi lakukan FAST (pemeriksaan sonografi yang difokuskan pada luka) padanya dan tetap jaga stabilitas tanda-tanda vitalnya. Aku akan merawatnya setelah ini,” jawab dr Moon dan setelah Seo Jung menutup telepon, dr Moon langsung memberitahu tim-nya kalau mereka harus menyelesaikan operasi itu dalam waktu 30 menit, jadi mereka semua harus lebih fokus lagi.
Kembali ke UGD dimana Seo Jung memindahkan pasien ke ruang perawatan dan meminta dipasang cline juga keteter pada pasien. Karena buru-buru membawa peralatan, seorang perawat tak sengaja menyenggol petugas 119 yang sedang memegangi bongkahan semen, karena bongkahan semennya tak ada yang memegangi, alhasil besi itupun jatuh dan darah pasien langsung muncrat kemana-mana.
Melihat itu Seo Jung langsung terdiam, tak bergerak, sedangkan yang lain langsung sibuk memberikan pertolongan pada pasien. Ada apa dengan Seo Jung? Kenapa dia tiba-tiba tercengang seperti itu?
Dr Moon kembali mendapat telepon dari UGD dan saat di beritahu kalau besi terlepas dari tubuh pasien, dr Moon langsung memanggil Seo Jung. Seo Jung sendiri masih terdiam, tapi karena semua orang berteriak padanya, Seo Jung pun dengan cepat sadar kembali.
Seo Jung menjawab telepon dr Moon dan dr Moon berpesan padanya kalau dia akan segera ke UGD dalam waktu 10 menit lagi, jadi Seo Jung harus merawat pasiennya sampai dia datang. Dengan terbata-bata, Seo Jung pun mengiyakan.
Melihat kondisi pasien, Seo Jung mencoba berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Dia kemudian memakai jas operasi dan memakai sarung tangan. Tak lupa, Seo Jung meminta perawat untuk menyiapkan banyak kain kasa lagi. Tanpa bertanya pendapat temannya, Seo Jung langsung menggunting perban si pasien. Saat ditanya apa yang sedang Seo Jung lakukan, dia pun menjawab kalau dalam kondisi seperti ini, kemungkinan pasien akan mengalami cedera aorta, jadi mereka tak punya banyak waktu lagi. Ya, Seo Jung berencana membedah pasien di UGD sekarang juga, sebab kalau tak dilakukan pembedahan, pendarahan internalnya bisa lebih parah.
Seo Jung membedah di depan banyak orang dan salah satu orang yang melihatnya adalah Dong Joo. Setelah membedah, Seo Jung kemudian memasukkan tangannya kedalam tubuh pasien dan mencari sesuatu didalam tubuh pasien.kondisi pasien terus menurun dan pendarahannya belum berhenti.
Melihat apa yang Seo Jung lakukan, Dong Jung pun bergumam apa Seo Jung sedang mencari arterinya? Setelah beberapa detik mencari, akhirnya Seo Jung menemukannya. Pendarahan pasien berhenti dan Seo Jung berkata kalau dia rasa pendarahannya bukan berasal dari arteri utama, tapi dari arteri limpa. Selain pendarahannya berhenti, kondisi pasien juga mulai stabil.
Dr Moon menelpon untuk bertanya apa yang terjadi? dan Seo Jung menjawab kalau kondisi vital pasien kembali stabil. Mendengar itu, dr Moon sedikit terkejut dan kemudian menanyakan tentang pendarahannya. Seo Jung menjelaskan kalau terjadi pendarahan dari arteri limpa, tapi dia sudah menekannya.
“Apa maksudmu menekannya? Menggunakan apa?” tanya dr Moon penasaran.
“Dengan jari saya,” jawab Seo Jung dan semua orang terkejut mendengarnya. Dr Moon tersenyum dan menyebut Seo Jung, dengan sebutan “gadis sinting.” Semua orang di ruang operasi juga ikut tersenyum mendengarnya. Dr Moon kemudian menyuruh Seo Jung dan kawan-kawan untuk membawa pasien ke ruang operasi sekarang juga.
Karena tak bisa melepaskan jarinya, Seo Jung pun naik ke ranjang dan ikut ke ruang operasi. Melihat apa yang Seo Jung lakukan, Dong Joo seperti mulai merasa suka pada Seo Jung. ..... kerenn banget loh adengan ini.
Dr Moon menyudahi operasinya, karena hanya tinggal menjahit, jadi dia meninggalkan si pasien untuk di urus tim-nya. Ketika hendak mencuci tangan, dr Moon melihat pasien yang ditangani Seo Jung masuk ruang operasi, dia juga melihat Seo jung masih berada di atas tempat tidur pasien.
Ketika bertemu dr Moon, Seo Jung pun meminta maaf karena terjadi insiden lepasnya besi. Dr Moon pun tak mempermasalahkannya, karena sisanya dia yang akan mengurusnya. Dia bahkan memuji kerja keras yang sudah Seo Jung lakukan. Namun saat melihat wajah si pasien, Seo Jung masih berasa gemetaran.
Berhasil menyelamatkan pasien, Seo Jung dan kawan-kawan makan jajangmyun untuk merayakannya. Kedua temannya memuji apa yang sudah Seo Jung lakukan dan Seo Jung menjawab kalau itu hanya keberuntungannya saja. Senior Seo Jung pun memberikan julukan baru pada Seo Jung, yaitu “Ratu Jari Penahan” karena sebelumnya Seo Jung sudah mempunyai julukan “Paus Gila.”
Tepat disaat itu, dr Park masuk dan langsung memarahi Seo Jung karena Seo Jung sudah mengabaikan pasien yang mengidap pneumonia spesis, padahal Dong Joo sudah memintanya untuk mengurus pasien itu. Seo Jung pun menjawab kalau tadi dia mengurus pasien yang tertusuk besi.
“Tapi pasien pneumonia itu datang lebih dulu dibanding pekerja konstruksi itu!” ucap dr Park.
“Tapi, tanda-tanda vitalnya normal dan hanya sedikit demam, jadi….”
“Jadi, sedikit demam itu bukan kondisi darurat bagimu?” potong dr Park. “Apakah seseorang harus mengalami pendarahan parah baru kau menyebutnya dalam kondisi kritis, Dokter Yoon?”
“Tidak, bukan seperti itu maksud saya.”
“Pasien itu mengalami ARDS (indikasi kerusakan paru). Dia bisa meninggal kalau saja Kang Dong Joo terlambat sebentar saja! Kudengar bahwa dia memintamu memeriksa pasien itu dan melakukan ABGA! Dua kali! Kenapa kau tetap mengabaikan dia?”
“Saya tidak mengabaikan dia, Saya….”
“Kalau begitu, kau sebut tindakanmu itu apa? Kau bahkan tidak menyadari kondisi pasien dan kalah dari seorang dokter magang?” tanya dr Park dan Seo Jung pun hanya bisa meminta maaf. Dr Park pun kemudian menyuruh Seo Jung untuk meminta maaf pada pasien.
Setelah dr Park pergi, Seo Jung benar-benar merasa kesal pada Dong Jung karena dia berani melaporkan seniornya. Si senior juga ikut kesal dan dia kemudian bertanya apa Seo Jung punya ide untuk membalas Dong Joo.
Seo Jung menemui Dong Joo dan menyebutnya “anak magang”, Seo Jung tak mau memanggil Dong Joo dengan namanya. Dia kemudian membahas tentang pasien yang berhasil Dong Joo selamatkan, dia memuji kinerja Dong Joo, padahal Dong Joo masih menjadi dokter magang. Dong Joo pun menjawab kalau dia akan melakukan apapun yang terbaik.
“Benarkah? Kalian semua mendengar kata-katanya, kan? Anak magang kita akan melakukan yang terbaik semampunya. Mulai sekarang, kita serahkan semua pasien MA pada anak magang kita ini,” ucap Seo Jung mengumumkan pada semuanya.
“Apa maksudmu?” tanya Dong Joo tak mengerti.
“Ya, banyak sekali pasien MA yang datang ke UGD. Jadi, pengalaman ini akan benar-benar membantumu berkembang sebagai seorang dokter. Lakukan yang terbaik,” tambah Seo Jung dan kemudian berjalan pergi. Setelah Seo Jung pergi, Dong Joo kemudian bertanya pada salah satu perawat tentang maksud “MA”.
“Itu akronim dari “Major Asshole.” Maksudnya adalah pasien yang berkelakuan seperti sampah,” jawab si perawat dan Dong Joo masih tak mengerti. Namun maksud dari “MA” kemudian langsung bisa dia pahami, karena tak lama kemudian muncul seorang pasien mabuk dengan kepala penuh darah. Saat Dong Joo hendak mengobatinya, si pasien malah memberontak sehingga membuat wajah Dong Joo kena sikut.
Tak berselang lama, muncul pasien wanita yang disaat Dong Joo hendak memeriksanya, dia malah berteriak histeris dan menyebut Dong Joo cabul. Bukan hanya menyebut “cabul” wanita itu juga menampar Dong Joo.
Selesai mengurus pasien wanita aneh, Dong Joo sekarang mengurus pasien yang merupakan bos gangster. Sebelum Dong Joo menusukkan jarumnya, anak buah si bos memperingatkan Dong Joo kalau bos-nya sangat membenci jarum suntik. Ketika si bos berteriak takut pada jarum, semua anak si bos langsung bersiap-siap memukul Dong Joo. Melihat apa yang terjadi pada Dong Joo, Seo Jung pun tersenyum senang.
Merasa lelah, Dong Joo pun membeli kopi di mesin minuman. Wajah Dong Joo benar-benar sudah babak belur karena menghadapi pasien MA. Saat dia hendak membuka kaleng kopi, tiba-tiba Seo Jung muncul dan mengambil kopinya.
“Hei? Apakah semuanya baik-baik saja? Tidak berat kan?” tanya Seo Jung.
“Ya, tidak terlalu buruk,” jawab Dong Jung santai.
“Kudengar kau yang terbaik dan menyelesaikan segala sesuatu sampai tuntas. Jadi, tetap lakukan yang terbaik, oke? Dan, terima kasih untuk kopinya,” ucap Seo Jung dan pergi. Dong Jung benar-benar merasa kesal pada Seo Jung, rasa kesalnya bertambah saat Dong Jung hendak membeli minuman lagi tapi uang koinnya habis.
Seo Jung mendapat pasien yang kesulitan BAB, dia kemudian meminta bantuan Dong Jung untuk membantu si pasien mengeluarkan tinja-nya. Sebelum Dong Jung melakukan tugasnya, Seo Jung keluar ruang pasien dengan perasaan senang.
Si senior bertanya apa Hye Jung tak terlalu keras pada Dong Jung? Dan temannya juga bertanya bagaimana kalau Dong Jung nantinya melarikan diri karena penyiksaan dari Seo Jung?
“Kalau begitu, dia sudah selesai,” jawab Seo Jung dengan santai. Tak lama kemudian terdengar teriakan pasien dan suara itu tambah membuat Seo Jung kegirangan karena berhasil membalas dendam pada Dong Jung.
Dong Jung dan si perawat terus berusaha membantu pasien mengeluarkan tinjanya dan akhirnya mereka berhasil, namun tinjanya muncrat ke wajah Dong Jung. Si perawat yang tak tahan pada baunya, langsung pergi keluar karena dia mau muntah.
Setelah membersihkan wajahnya, Dong Jung menemui Seo Jung dan mengembalikan alat-alat yang dia gunakan untuk menarik tinja pasien. Dong Jung juga menjelaskan kalau pasien mengalami perobekan pada anus-nya dan bagian lain dalam kondisi aman-aman saja.
“Syukurlah. Kerja bagus, anak magang,” puji Seo Jung.
“Kau mencoba untuk mempermainkanku, kan?” tanya Dong Jung dengan ekspresi serius dan Seo Jung pura-pura tak mengerti. “Kau memberiku para pasien yang dapat membuatku frustasi. Apakah aku salah?”
“Wow, kurang ajar sekali. Kenapa kau begitu pemilih? Apakah kau mendiskriminasi pasien karena kelakuan mereka?” tanya Seo Jung dan Dong Joo meralat, dia protes karena perlakuan Seo Jung padanya sudah sangat kelewatan. Semua orang yang mendengar perdebatan mereka berdua, memilih diam.
“Hey, anak magang. Bagaimana caramu untuk memasukkan seekor gajah ke dalam lemari es?” tanya Seo Jung. “Jawabannya adalah… membiarkan para anak magang melakukannya. Di sini, anak magang harus melakukan apa pun yang diperintahkan pada mereka dan kau, tidak boleh mendiskriminasi pasien serta menolak merawat mereka. Itu berlaku juga untuk pasien tadi yang tidak bisa mengeluarkan tinja dari pantatnya sendiri. Kau mengerti? Dan kalau kau tidak bisa mengatasinya, pergilah. Aku juga tidak memintamu bertahan, berengsek,” ucap Seo Jung dan kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
“Apa sebenarnya kesalahanku? Saat kau melakukan pertunjukan dengan pasien pendarahan itu, aku menyelamatkan pasien lain yang datang sebelum dia. Di mana letak kesalahanku?”
“Apa kau bilang? Melakukan pertunjukan?”
“Kau melakukan semua itu agar mendapat julukan seperti “Paus Gila” dan “Ratu Jari Penahan,” kan?